Cek Toko Sebelah (2016)

Kesuksesan Ngenest The Movie, membuat Ernest Prakasa dipercaya oleh Starvision untuk membuat karya. Kesuksesannya pun tak sekedar dalam meraih angka penonton, tetapi secara kualitas pun Ngenest The Movie bisa melampaui ekspektasi penontonnya. Tak hanya dipercaya oleh rumah produksi, karya-karya Ernest Prakasa akan dinantikan oleh penikmatnya. Di tahun 2016 lalu, Ernest Prakasa kembali menghadirkan sebuah film komedi dengan misi yang sangat besar untuk disajikan kepada penontonnya. Lewat ‘Cek Toko Sebelah’, Ernest Prakasa berusaha untuk kembali membuktikan kemampuannya dalam mengarahkan sebuah film. Genre komedi ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Ernest Prakasa tetapi ada keseriusan yang lebih diperhatikan di film keduanya. Adanya Dion Wiyoko, Adinia Wirasti, Chew Kin Wah, dan mengambil keputusan berani mendatangkan wajah baru seperti Gisela, menunjukkan bahwa Ernest Prakasa di film keduanya ini sudah tak main-main.
Cek Toko Sebelah lagi-lagi mengangkat tema ras Tionghoa yang memang dekat dengan pribadi Ernest Prakasa. Tetapi, poin utama dari film Cek Toko Sebelah bukan lah tentang Tionghoa sebagai minoritas di Indonesia. Poin utama dari Cek Toko Sebelah adalah tentang keluarga, pesan yang begitu universal bagi siapapun. Maka dari itu, Cek Toko Sebelah memiliki misi yang sangat besar sebagai sebuah film komedi karena misinya untuk menyampaikan pesan yang serius itu dengan kemasan ringan. 

Misinya mulia, pesannya pun hangat, tetapi Cek Toko Sebelah yang berusaha keras untuk meminimalisir filmnya agar tak terlalu berat ini menjadi bumerang di keseluruhan film. Sebagai sebuah film komedi, tak dapat dipungkiri bahwa Cek Toko Sebelah berhasil menghibur penontonnya. Tetapi, hal tersebut bukan berarti menjadi kabar baik. Cek Toko Sebelah memiliki kekurangan-kekurangan yang harusnya bisa diperbaiki di karya-karya Ernest Prakasa selanjutnya.
Problematika domestik yang dibawa oleh Ernest Prakasa ini memang berusaha agar dapat diterima oleh banyak orang, tak hanya dikhususkan kepada kaum Tionghoa yang direpresentasikan di film ini. Ernest tahu bahwa tujuan dari Cek Toko Sebelah ini adalah untuk menumbuhkan relevansi problematika kaum minoritas Indonesia. Menunjukkan bahwa problematika yang terlihat tersegmentasi ini sebenarnya adalah realita sosial yang ada di setiap orang. 

Gambaran realita sosial itu tergambar lewat dari plot Cek Toko Sebelah yang menceritakan tentang bisnis toko kelontong milik Koh Afuk (Chew Kin Wah). Dia merasa bahwa dirinya semakin tua untuk mengurus toko kelontongnya, apalagi setelah ditinggal oleh istrinya (Dayu Wijayanto). Koh Afuk pun memutuskan untuk mewariskan tokonya ke Erwin (Ernest Prakasa). Mendengarkan keputusan koh Afuk, Yohan (Dion Wiyoko) sebagai anak sulung pun tak terima bila toko tersebut diberikan kepada Erwin sebagai anak bungsu.
Erwin pun tak senang mengetahui bahwa dirinya akan mewarisi toko tersebut, karena karir Erwin sedang naik-naiknya. Tetapi, Koh Afuk berusaha untuk meyakinkan Erwin agar mau melanjutkan toko kelontong milik keluarga ini. Akhirnya, Erwin diberi masa percobaan untuk mengurus toko kelontong tersebut selama sebulan. Tetapi, masalah-masalah di toko kelontong ini tak hanya datang dari internal keluarga, tetapi juga oknum-oknum lain yang berusaha membeli toko kelontong koh Afuk untuk kepentingan yang lain. 

 Menuliskan permasalahan dengan ranah domestik atau pribadi tetapi berusaha memberikan dampak secara luas dan untuk semua kalangan ini dibutuhkan ketelitian. Naskah yang ditulis oleh Ernest Prakasa dan juga mendapat pengembangan cerita dari sang Istri, Meira Anastasia, ini memiliki kehati-hatian itu. Problematika di dalam plot cerita ini memiliki banyak kekayaan bila dirasakan lewat naskahnya, tetapi hasilnya di layar tak dapat dirasakan sepenuhnya.
Dengan durasi mencapai 104 menit, Cek Toko Sebelah terlihat memiliki keterbatasan dalam memperlihatkan kekayaan naskahnya. Yang menyebabkan hal tersebut adalah bagaimana Ernest yang sibuk berusaha menumpulkan isu sosialnya yang berat dengan kemasan komedi yang terlalu banyak. Sekuens-sekuens komedi itu memang cara jitu untuk sesekali digunakan sebagai pelarian diri dari plot yang terlalu serius. Tetapi, sekuens komedi ini tak bisa membaur menjadi satu dengan penuturan plot utamanya dan jadinya informasi yang diterima akan terpisah-pisah.
Cek Toko Sebelah pun tak bisa menjadi sebuah film yang utuh, perkembangan karakternya pun tak bisa terasa maksimal. Ada rasa Ernest ingin mendekatkan penonton dengan setiap karakternya, apalagi problematika seperti ini memang dekat dengan kehidupan sosial yang ada. Hanya saja, penuturannya terbata-bata, sehingga tujuan Ernest untuk mendekatkan itu kurang bisa tersampaikan. Ketika penonton sudah berusaha ingin menyatu dengan setiap karakter dan konfliknya, sekuens komedinya malah mendistraksi intimasi dengan karakternya. 

Kekuatan dari Cek Toko Sebelah adalah nilai produksi yang dibuat dengan teliti. Parodi brand produk yang ada di dalam film ini adalah bentuk salah satu ketelitian Ernest saat mengarahkan film ini. Selain dalam hal teknis, poin penting yang patut mendapat apresiasi adalah penampilan Dion Wiyoko dan Adinia Wirasti. Dion Wiyoko berhasil menerjemahkan kegelisahan Yohan yang merasa bahwa hirarkinya terganggu, diimbangi dengan permainan persona yang teduh dari Adinia Wirasti sebagai ayu. Sehingga, keduanya berhasil menjadi sorotan utama bagi film Cek Toko Sebelah ini.
Cek Toko Sebelah sebenarnya adalah sebuah film yang dibuat dengan teliti dan hati-hati. Hal itu terasa di dalam naskahnya yang ditulis begitu kaya. Hanya saja, dalam translasi menjadi sebuah film, Cek Toko Sebelah tak dapat menjadi sebuah film yang utuh. Hal itu dikarenakan distraksi sekuens komedi yang pada akhirnya menghambat perkembangan konfliknya, sehingga kekayaan naskahnya dalam menggambarkan isu-isu sosial itu tak dapat muncul dengan maksimal. Tetapi, detil nilai produksi dan performa Dion Wiyoko serta Adinia Wirasti ini menunjukkan bahwa Ernest Prakasa sebagai sutradara sebenarnya memiliki misi yang kuat dan mulia. Cek Toko Sebelah harusnya punya performa yang jauh lebih bagus dari ini. 

First Love (a Thing Called Love) (2010)

Film yang berjudul Crazy Little Thing Called Love ini berasal dari Thailand. Dirilis tahun 2008. Film ini bercerita tentang cinta pertama seorang pelajar SMP bernama Khun Nam (Pimchanok Luevisadpaibul) terhadap kakak kelasnya yang bernama Khun Shone (Mario Maurer).
Nam, dibantu dengan teman-temannya yang super, mencoba berbagai cara untuk mendekati si cowok ini. Yaitu dengan mencoba hal-hal yang ada di dalam buku yang berisi tentang 9 metode cinta dari berbagai Negara. 
Selain itu, Nam berusaha keras untuk merubah dirinya yang awalnya hitam dan jelek, menjadi cantik, putih, anggun, dan pintar. Tentu saja usaha Nam itu tak luput dari bantuan ketiga temannya.
Tetapi walaupun sudah berubah menjadi lebih cantik, dan lebih feminim, usaha Nam dan teman-temannya tidak pernah membuahkan hasil. Si cowok enggak pernah meminta Nam jadi pacarnya, alih-alih malah sahabat si cowok yang meminta Nam jadi pacarnya.
Pada akhirnya, suatu hari, Nam memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya ke si cowok. Tapi apa yang terjadi? Si cowok rupanya sudah berpacaran dengan Pin, teman si cowok itu sendiri.

***
Film ini memang rilis tahun 2008 dan tergolong film lama. Tapi film ini menakjubkan! Awalnya temen-temen saya pada nonton ramai-ramai dikelas, cuma saya gak tertarik, jadi saya gak ikutan nonton. Kenapa saya gak tertarik? Karena itu film Thailan, entahlah, film Thailand-kan (maaf) biasanya aneh-aneh. Maksudnya, kawan2 saya selalu nonton film Thailand yang aneh-aneh.
Tapi kemudian pas di SMA ini, saya kelewat bosan dan minta film-film bajakan sama temen saya yang punya koleksi lengkap film maupun anime dan tidak segan-segan untuk memberikannya kepada siapapun yang meminta.
Inilah awalnya saya ketemu film ini untuk kedua kalinya. Saya akhirnya nyerah sama sikap anti Thailand dan mencoba nonton film satu ini, lagian judulnya cukup bagus, pikir saya waktu itu.
Kesan pertama saya saat menonton film ini adalah merasa, er… ilfeel? Yah, mungkin kalo kasarnya lebih tepat ke jijik, mual-mual ga jelas. Mau tau kenapa? Liat deh foto-foto berikut.

Gaya mereka itu loh, konyol dan segalanya. Saya benar-benar gak berselera nonton jenis yang beginian. Tapi abang saya bilang filmnya bagus, nanti ada bagian sedihnya dll dll.. Jadi saya bertahan.
Dan ternyata memang bagus bangeeeet. Film ini mengingatkan saya pada saat saya mengalami cinta pertama dulu~ *sedikit curcol ini :p* , Seperti si Nam yang keluar kelas, izinnya ke toilet padahal sebenernya mau ngeliat si cowok dengan cara melewati kelasnya, saya juga pernah melakukannya, sama banget deh, izin ke toilet, lalu bukannya lewat lorong kiri malah ke lorong kanan, rela muter-muter demi ngeliat gebetan huahaha. Atau saat saya ngebalikin absen ke meja piket, keliatan kayak sekretaris paling rajin padahal modus banget supaya biar bisa liat cinta pertama saya dari balik kaca. Juga seperti Nam yang ngeliat dari jarak jauh, pura-pura diam di tempat tertentu saat si cowok lewat, saya juga pernah melakukan semuaanya hahahaha. Pengalaman bodoh memang, tapi menyenangkan banget. Saya baru lulus SD dan udah melakukan hal gila kayak gitu, rasanya… wahahaha. Tapi untunglah sekarang saya bisa menjaga pikiran saya supaya tetep di jalan normal dan berpikir waras. 😛
Curcolnya udahan, lanjut lagi,.. setelah akhirnya mengalami banyak perawatan, si cewek menjadi sempurna dan terkenal, mau liat perubahannya?

Kelebihan film ini adalah, akting para tokoh berjalan sangat natural seakan-akan mereka bukannya main film. Mereka benar-benar seperti anak-anak yang berbuat seenaknya, si aktor cewek seakan benar-benar jatuh cinta sama si cowok. Juga temen-temen si Nam, yang wah.,. Pokoknya akting mereka semua sempurna, detail-detail sikap yang kecil itu diperhatiin. Saya suka.
Dan lalu, feel-nya dapet banget. Saya bisa tertawa benar-benar tertawa, ataupun ikutan jengkel, ikutan marah, dan bahkan sedih. Mata saya sempat berkaca-kaca saat menonton beberapa adegan dari film ini, yang membuat saya bener-bener mereka ikut tertusuk adalah saat bagian si Nam menyatakan cinta ke cowoknya, dan ternyata cowok itu udah punya pacar.

Secara keseluruhan film ini bagus, hanya endingnya saja yang menurut saya sedikit datar dan membosankan, membuat saya kecewa.

Sekilas review saya.. Ga jelas ya? Maklum saya masih belajar 😛 Intinya adalah, buat kalian yang lagi nyari-nyari film bertema cinta remaja(?), ataupun yang lagi jatuh cinta, lagi patah hati, pengen ketawa, pengen nangis, silahkan menonton film ini. 🙂

Pengabdi Setan (2017)

Posted on December 19, 2018 By Gilang ArnandoC

Via Istimewa

Seperti yang udah lo saksikan sendiri, Pengabdi Setan versi 2017 punya kisah berbeda dari Pengabdi Setan versi orisinal (1980). Kali ini, kisahnya tentang sebuah keluarga bahagia yang enggak lagi bahagia karena carut marutnya kondisi ekonomi setelah sang ibu (Ayu Laksmi) yang seorang penyanyi kondang, meninggal dunia akibat jatuh sakit selama tiga tahun belakangan. Enggak hanya meninggalkan duka, kematian sang ibu ternyata menyisakan misteri yang terus menghantui dan mengganggu keluarga tersebut. Secara perlahan, misteri yang menyelimuti kematian sang ibu pun terungkap dan menjawab arti di balik judul film ini.

Sejujurnya, Viki cukup kaget karena belum pernah ngelihat ada film horor Indonesia yang kehadirannya benar-benar ditunggu sama masyarakat Indonesia kayak Pengabdi Setan. Bahkan, mereka yang tadinya takut dan benar-benar enggak berani nonton film horor pun jadi penasaran sama film besutan Joko Anwar ini. Buktinya pun jelas terlihat lewat hasil Box Office. Hingga saat ini, Pengabdi Setan telah ditonton lebih dari 1,5 juta orang.

Joko Anwar. Via Istimewa

Kalau dipikir-pikir lagi, sih, wajar Pengabdi Setan bisa seheboh ini. Selain karena promosi besar-besaran, film ini jadi heboh lewat statusnya sebagai karya daur ulang dari film berjudul sama yang rilis pada 1980. Pengabdi Setan versi orisinal sendiri diakui sebagai salah satu film horor terbaik dan terseram sepanjang sejarah perfilman Indonesia.

Faktor lainnya adalah pengaruh dari sang sutradara, Joko Anwar. Sutradara lulusan Teknik Penerbangan ITB ini memang dikenal punya selera yang beda dari sutradara Indonesia lainnya. Penikmat film Indonesia pun enggak sungkan mengakui Joko sebagai salah satu sutradara terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Buktinya terlihat jelas saat lo menonton filmnya. Joko benar-benar serius ngegarap film yang katanya perlu waktu 10 tahun buat direalisasiin. Terlihat jelas upaya Joko untuk membuat Pengabdi Setan jadi sebuah film horor yang matang di semua aspek.

Via Istimewa

Hal yang terlihat benar-benar apik di mata Viki adalah penggarapan visual yang jarang banget ditemuin di film horor kebanyakan. Bisa dibilang, gaya visual Pengabdi Setan terlihat “Joko Anwar banget” yang mungkin udah pernah lo lihat dalam film-film Joko lainnya. Sinematografi Pengabdi Setan terlihat sempurna dengan penggunaan berbagai teknik, seperti wide shotclose up shot, hingga dutch angle yang bikin suasana mencekam makin terasa.

Hal yang sama juga berlaku pada aspek musik dan suara secara keseluruhan. Karena film ini berlatar 1981, lo pun akan terbawa dengan alunan musik ala 1980-an. Gaya serba-mendetail ala Joko Anwar juga terasa lewat penggunaan suara radio jadul yang bikin suasana nostalgia makin terasa.

Efek suara termasuk salah satu hal yang paling ngeselin dalam film ini, terlebih buat lo yang orangnya penakut. Khikmawan Santosa dan Anwar Moha berhasil menata suara yang memberikan pengalaman mencekam yang tak terlupakan selama 107 menit penayangan. Tentunya hal ini bakal memanjakan lo yang suka banget dikagetin.

Via Istimewa

Soal efek kejut alias jumpscare, Viki punya pendapat yang mungkin berbeda dari kebanyakan orang yang udah nonton filmnya. Awalnya, Viki berekspektasi bahwa film ini penuh jumpscareyang sama sekali enggak ngasih kendor penontonnya. Ditambah dengan komentar orang-orang yang udah nonton dan warganet yang beranggapan bahwa film ini benar-benar sengeri itu.

Faktanya, anggapan ini terbukti enggak benar setelah Viki udah nonton filmnya. Harus Viki akui, Pengabdi Setan masih kalah dalam urusan jumpscare dengan film horor mancanegara kayak The Conjuring (2013) atau Annabelle: Creation (2017) yang ogah ngasih napas buat penontonnya.

Hal ini bukan berarti negatif, loh. Justru Viki melihat hal ini memang udah direncanain sendiri sama Joko. Joko terkesan enggak mau terlalu mainstream dengan adegan jumpscare yang norak. Makanya, jumpscare yang ada di Pengabdi Setan bisa dibilang lebih menang secara kualitas dibanding kuantitas. Hasilnya, Pengabdi Setan terlihat lebih berkelas dibanding film-film horor Indonesia lainnya.

Via Istimewa

Joko pun juga agak ngeselin di sini. Dia terlihat jelas berusaha nge-troll lo semua dengan adegan jumpscare yang ternyata enggak nakutin sama sekali, bahkan bikin lo ketawa. Misalnya aja, adegan pas tukang pijit datang ke rumah. Mungkin bagi sebagian orang, hal ini terkesan norak. Viki sendiri nikmatin hal ini. Soalnya, jarang-jarang ada film horor yang berani mainin emosi penontonnya kayak Pengabdi Setan.

Sayang banget, adegan jumpscare yang udah disusun sedemikian rupa buat nakutin dan ngeguncang emosi lo bakal sirna gara-gara satu hal: Tara Basro.

Bercanda, deng. Sebenarnya, enggak begitu-begitu banget, kok. Kehadiran Tara Basro sejujurnya bikin film yang harusnya horor ini terasa adem dan bikin lo lupa kalau lo lagi nonton film horor. Sayang, di balik auranya yang bikin adem, perannya justru jadi salah satu sisi negatif dalam film.

Via Istimewa

Tara bukannya enggak bekerja dengan baik. Sayangnya, bagi Viki, karakternya sebagai Rini, anak pertama dalam keluarga yang sedang bermasalah, justru terasa hampa dan enggak mampu berkembang. Aktingnya juga tergolong enggak istimewa, dibandingin saat dia bermain dalam film A Copy of My Mind (2015).

Harus diakui, film ini tertolong oleh penampilan super-duper-keren dari M. Adhiyat sebagai pemeran anak bungsu yang bisu, Ian. Untuk ukuran aktor cilik, aktingnya benar-benar keren dan terasa sangat alami. Adhiyat terkesan seperti enggak lagi berakting dan bahkan terasa kayak anak kecil yang bisu sungguhan. Adhiyat juga sukses bikin karakternya so adorable. Viki jamin, deh, selama nonton film ini, lo bakal ngerasa sedih dan putus asa pas nyawanya terancam, apalagi pas bagian klimaks.

Via Istimewa

Viki juga ngerasa keganggu sama dialog-dialog yang kedengaran agak maksa. Hal ini masih bisa dipahami mengingat Pengabdi Setan menggunakan latar 1980-an yang gaya bahasanya semiformal. Sayangnya, ada beberapa bagian yang enggak konsisten, misalnya penggunaaan kata enggak yang harusnya tidak atau bagian yang sedikit memaksa, kayak area pekuburanyang disebutkan oleh Bondi (Nasar Annuz) yang lebih enak jika disebut pekuburan aja.

Kesan maksa juga terlihat jelas dalam segi alur cerita. Two thumbs up buat Joko Anwar yang mampu bikin sebuah kisah rumit dan menarik seperti yang dia jabarkan dalam Pengabdi Setan. Akan tetapi, upayanya untuk bikin cerita mendetail nan eksotis malah membuat filmnya jadi terlihat enggak sempurna.

Secara keseluruhan, film ini punya cerita yang menarik dan enggak benar-benar mengadaptasi kisah orisinalnya. Joko juga terlihat berusaha bikin logikanya sendiri untuk Pengabdi Setan. Sayangnya, ada banyak “kebocoran” yang Viki jamin bikin lo bingung dan berpikir keras untuk mengerti maksudnya.

Via Istimewa

Logika yang dibuat sendiri oleh Joko malah terlihat enggak logis. Beberapa poin cerita/adegan terasa rancu dan enggak nyambung. Kalau lo termasuk penonton yang merhatiin detail, Viki yakin pasti lo ngerasa keganggu sama lubang-lubang yang ada.

Sedikit bocoran, beberapa poin cerita yang Viki anggap paling mengganggu. Misalnya saat Rini menanyakan kepada Bapak (Bront Palarae) apa yang dibicarakannya pada sang ibu sebelum meninggal. Enggak cuma Rini, Viki dan lo yang nonton pun pasti penasaran. Soalnya, adegan ini terlihat seperti jadi poin penting yang berkaitan dengan cerita. Nyatanya, setelah Rini memaksa Bapak untuk menjawab pun, pertanyaan ini pada akhirnya enggak terjawab sampai film tuntas dan udah dilupain begitu aja.

Begitu juga saat sang bapak pergi setelah ibu meninggal. Anehnya, dengan rentetan kejadian enggak ngenakin yang dialaminya bersama adik-adiknya, Rini atau Tony (Endy Arfian) sebagai anak paling dewasa enggak berusaha buat ngehubungin bapaknya. Apalagi saat sang nenek (Elly D. Luthan) tewas secara misterius. Padahal, sang nenek adalah ibu dari bapaknya. Aneh rasanya kalau mereka enggak berusaha buat nyari bapaknya. Yang ada, mereka malah berusaha buat menyelesaikan masalahnya sendiri.

Via Istimewa

Lemahnya plot cerita ini bakal lebih terasa saat film mendekati klimaks. Dimulai dari si bapak yang nyuruh anaknya tidur duluan saat nunggu truk pindahan. Eh, tahu-tahunya si bapak malah ikutan bobok ganteng di ranjang, pakai piyama pula. Terus saat adegan Ian “diculik”. Sang bapak udah ngerelain begitu aja dan enggak ada usahanya. Padahal, sebelumnya dia mati-matian berusaha nyelamatin sang anak.

Segala kebocoran yang terdapat di segi plot ini ditambal dengan elegan lewat twist plot ala film-film horor mainstreamTwist ini bagi sebagian orang pasti terasa “wah”. Ditambah, twistini melibatkan Ian, si sosok paling adorable di sepanjang film yang bikin penonton terbawa suasana emosional dan mampu bikin penonton ngelupain hal-hal yang enggak logis dalam plot.

Bagian ending yang absurd? Hmm, anggap aja film ini adalah prekuel dari Pengabdi Setanversi orisinal atau Joko bakal bikin versi sekuelnya. Soalnya, kalau lo enggak punya anggapan seperti itu, film ini bakal terasa benar-benar absurd. Semoga aja Joko mau bikin sekuelnya dan bisa “menambal kebocoran” yang ada di film ini.

Via Istimewa

Di balik segala kelemahan yang ada, Pengabdi Setan adalah film horor yang wajib banget lo tonton. Secara keseluruhan, film ini mampu menghibur lo yang enggak suka film horor sekalipun. Film ini juga sayang banget buat dilewatin. Soalnya, di Pengabdi Setan, lo bakal ngelihat bagaimana kerennya jika film horor Indonesia—yang dulu selalu erat dengan kesan cabul atau jayus—digarap oleh sutradara yang punya visi dan selera beda kayak Joko Anwar.

Enggak bisa dimungkiri bahwa Joko Anwar mampu menyajikan sebuah pengalaman horor yang mencekam sekaligus menyenangkan. Kemampuan Joko terbukti lewat sajian visual dan teknik produksi kelas wahid yang bikin Pengabdi Setan terlihat wajar dengan peraihan 13 nominasi penghargan FFI 2017.

Via Istimewa

Sisi positif lainnya, Pengabdi Setan juga bisa menjadi benchmark bagi produser dan sutradara lain untuk bikin film horor yang berkelas dan elegan. Jadi, enggak usah heran kalau ke depannya film-film horor Indonesia punya kualitas dan selera yang sama, bahkan lebih baik daripada sekarang. Semoga aja, ya!

Suzanna : Beranak Dalam Kubur (2018)

*

Siapa yang enggak kenal Suzzanna? Aktris dengan nama asli Suzzanna Martha Frederika van Osch ini adalah sosok legendaris di dunia perfilman Indonesia, khususnya di genre horor. Udah tampil di 42 judul selama berkarir di layar perak, aktris yang tutup usia di 2008 lalu ini mendapat julukan sebagai ratu horor Indonesia.

Sepuluh tahun berselang lepas kepergian sang ratu, sosok ikonis Suzzanna dibangkitkan melalui film besutan Rocky Soraya dan Anggy Umbara berjudul Suzzanna: Bernapas dalam Kubur. Diperankan oleh Luna Maya, film keluaran Soraya Intercine Films ini melakukan debut dahsyat dengan cerita dan tampilan yang memukau.

Narasi Apik yang Bikin Simpati

suzzanna
Dok. Soraya Intercine Film

Ketika kabar penggarapan film ini beredar, banyak yang menyangsikan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur akan bisa menandingi pesona film terdahulu yang dibintangi oleh sang ratu horor. Namun ketika teaser dan cuplikan perdana dirilis, minat dan rasa penasaran para penikmat horor di Tanah Air enggak bisa terbendung.

Film ini bercerita tentang kisah sepasang suami istri bernama Satria (Herjunot Ali) dan Suzzanna (Luna Maya) yang sudah lama menikah namun belum dikarunia keturunan. Kerinduan akan buah hati menjadi kenyataan setelah sang istri dinyatakan hamil. Mendengar kabar ini, Satria menjadi girang bukan kepalang.

Oke kita masuk ke konflik. Menjadi petinggi di sebuah pabrik manufaktur yang cukup ternama, Satria dihadapkan dengan tuntutan dari anak buahnya, Jonal (Verdi Solaiman) dan Umar (Teuku Rifnu Wikana) yang meminta kenaikan gaji. Beralasan bahwa belum lama ini sudah memberikan gaji, Satria mementahkan permintaan dua anak buahnya ini.

Terdesak dalam hal keuangan, Jonal mengusulkan kepada Umar, Gino (Kiki Narendra) dan Dudun (Alex Abbad) untuk merampok rumah Satria, karena dia akan dinas ke Jepang selama beberapa hari. Umar yang memiliki rasa terhadap Suzzanna menolak mentah-mentah rencana ini, namun karena desakan temannya, buruh pabrik yang satu ini akhirnya luluh juga.

Rencana dilancarkan, semua berjalan lancar, sampai akhirnya aksi mereka tepergok oleh Suzzanna. Setelah kejar-kejaran selama beberapa waktu, Suzzanna harus tewas karena tertusuk dengan enggak sengaja oleh Dudun.

Panik dan ketakutan, empat sekawan tadi akhirnya memutuskan untuk mengubur mayat perempuan nahas ini di halaman rumahnya sendiri. Ini adalah asal mula perubahan Suzzanna menjadi sundel bolong. Mitos menyebutkan bahwa seorang ibu yang meninggal dalam keadaan mengandung akan berubah menjadi sundel bolong.

Mengusung misi balas dendam, Suzzanna yang tadinya lemah lembut berubah menjadi makhluk astral yang brutal.

Enggak Menyeramkan, tapi Sukses Memberikan Pengalaman Nonton yang Dahsyat

suzzanna
Dok. Soraya Intercine Film

Di film ini, Suzzanna memang menjadi fokus utama. Konflik yang udah dibuat dengan baik, sukses membuat penonton penasaran akan aksi yang dilakukan oleh Suzzanna. Kalau ditilik, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur menitikberatkan pada sisi dramanya. Horor yang tersaji, walaupun digarap dengan total, belum bisa memberikan efek seram yang dahsyat.

Dibandingkan dengan keseraman yang dibangun, aksi menegangkan lebih terasa ketika banyak adegan sadis dan brutal yang menimpa para pemeran antagonis.

Tapi enggak melulu dihajar dengan aksi menegangkan, lo juga akan dibikin terbahak-bahak melihat ulah trio pembantu di rumah Suzzanna. Mia (Asri Welas), Rojali (Opie Kumis) dan Tohir (Ence Bagus) berpadu apik dalam menyajikan komedi segar.

Ajang Pembuktian Luna Maya

suzzanna
Dok. Soraya intercine Film

Tahu mengemban tugas berat dalam memerankan sosok legendaris, Luna Maya membuktikan diri sebagai aktris papan atas dengan akting prima. Setiap gerak-gerik, mimik tanpa ekspresi yang menjadi ciri khas sang legenda sukses ditampilkan dengan sempurna oleh aktris berusia 35 tahun ini.

Lupain semua yang lo tahu tentang aktris kelahiran Denpasar ini, karena di Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, Luna Maya berhasil bertransformasi menjadi sang legenda horor Indonesia. Dari awalnya menjadi istri yang terkesan lemah, Maya tampil memesona saat menebar teror sebagai sundel bolong.

Herjunot Ali juga enggak kalah memukau dalam memerankan sosok suami yang sangat sayang terhadap istrinya. Kesedihan dan penyesalan tergambar jelas ketika menguak liang kubur sang istri. Meratapi sambil memeluk jasad yang udah terbujur kaku, akting brilian dari aktor berusia 33 tahun ini sukses bikin simpati.

Totalitas Rocky dan Anggy

suzzanna
Dok. Soraya Intercine Film

Dari babak awal, udah terasa totalitas dan niat dari para kru dalam menggarap film ini. Berkat sinematografi memesona dan alur cerita yang dirangkai menjadi narasi apik, Rocky dan Anggy patut diacungi jempol.

Genre horor memang menjadi makanan sehari-hari buat Rocky, putra dari Ram Soraya ini udah menggarap beberapa film penuh atmosfer mengerikan seperti The Doll (2016), The Doll 2 (2017) dan Sabrina (2018). Dibantu oleh Anggy Umbara, sutradara dari Warkop DKI Rebornyang menjadi film tersukses sepanjang masa ini memberikan sentuhan aksi nan menegangkan serta elemen komedi yang meringankan suasana.

Di film ini, Rocky dan Anggy menempatkan Suzzanna sebagai korban sekaligus jagoan, enggak bikin ngeri, malah penonton dibuat mengamini aksi brutal dan sadis Suzanna dalam misi balas dendamnya.

Buat lo yang ingin melihat ulasan lebih jelasnya seputar film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, lo bisa simak review dari Gian di bawah!

***

Langsung aja lo melipir ke bioskop kesayangan dan nikmati efek dahsyat dengan menonton Suzzanna: Bernapas dalam Kubur. Mulai debut kemarin (15/11), film keluaran Soraya Intercines Film ini bisa menjadi salah satu pilihan hiburan di akhir pekan. Setelah nonton, jangan lupa beri penilaian versi lo, ya!

Dilan 1990 (2017)

Dilan, karakter utama dari novel Pidi Baiq yang berjudul Dilan 1990 (2014), Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 (2015), dan Milea: Suara dari Dilan (2016), tengah digandrungi kaum hawa karena rayuan khasnya yang bisa bikin senyum-senyum sendiri. Dia digambarin sebagai bad boy yang romantis. Sosok cowok idaman ini pun akhirnya terwujud bukan cuma dalam angan-angan pembaca novel. Soalnya, kisah novel Dilan diadaptasi ke sebuah film yang digarap oleh Fajar Bustomi.

Awalnya, pemilihan Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran Dilan cukup banyak menimbulkan kontroversi. Enggak sedikit netizen ngerasa bahwa sosok Iqbaal terlalu “baik” buat meranin bad boy kayak Dilan. Ditambah, banyak keraguan dari para pembaca novel Dilan 1990 mengenai film adaptasi ini. Bahkan, dari cuplikan filmnya aja, dialog rayuan yang disampaikan Iqbaal di film dinilai sangat datar dan mengecewakan.

Yap, memang enggak adil kalau menilai sebuah film cuma dari cuplikannya. Padahal, sebagai film adaptasi, Dilan 1990 bisa dibilang cukup berbeda. Biasanya, film adaptasi enggak nampilin keseluruhan kisah dalam novel. Namun, seakan-akan enggak mau mengecewakan penggemar novelnya, film ini nyajiin visualisasi dari seluruh adegan krusial dalam novel meski durasi tetap jadi hal yang diperhitungkan.

Sinopsis: Dilan (Iqbaal Ramadhan) begitu gencar mendekati Milea (Vanesha Priscillia), teman sekolahnya. Milea sendiri udah punya pacar, Beni (Brandon Salim), meski berbeda kota. Namun, ini enggak bikin Dilan gentar. Dia pun mengeluarkan senjata andalannya: rayuan-rayuan manis yang berbisa.

Via Istimewa

Kalau lo udah baca novelnya, mungkin punya bayangan sendiri bagaimana sosok Dilan dari penggambaran Pidi Baiq. Sang penulis novel sendiri pernah mengatakan bahwa sosok asli Dilan akan tetap dijaga baik-baik. Film ini pun membuktikannya.

Iqbaal yang awalnya sempat diragukan berhasil mematahkan keraguan tersebut. Soalnya, Iqbaal mampu menghidupkan karakter Dilan yang dikenal sebagai berandalan romantis. Mulai dari ekspresi nakal, tatapan tajam, hingga jiwa romantis Dilan, semua aspek utama dari seorang Dilan bisa dihayati oleh Iqbaal.

Via Istimewa

Iqbaal juga bisa membangun chemistry yang pas dengan Vanesha. Bahkan, para pemeran lainnya juga terlihat memiliki chemistry yang baik antara satu dengan yang lainnya. Namun, bukan berarti semua ini enggak ada kekurangan. Nyatanya, meski semua terlihat baik-baik aja, lo bakal terganggu sama rayuan-rayuan Dilan yang rasanya kurang pas. Bukannya bikin hati meleleh, beberapa rayuan ini justru terlihat receh.

Memang, sih, sebuah film yang diangkat dari novel enggak bakal maksimal mewakili novel tersebut. Kepala sang sutradara tentunya enggak cukup mampu menampung imajinasi para pembaca dengan penafsiran masing-masing. Meski film ini berusaha maksimal nampilin seluruh adegan penting dalam novel, unsur-unsur yang sifatnya enggak konkret malah enggak tergarap dengan baik. Misalnya rayuan-rayuan nanggung tadi.

Via Istimewa

Yap, film ini bakal lebih manjain mata ketimbang batin lo. Apalagi, kisah romansa antara Dilan dan Milea ini berlatar sama dengan yang ditulis dalam novel, yaitu Kota Bandung era 1990-an. Lokasi-lokasi yang digunakan dalam film ini di antaranya adalah kawasan Cibeunying dan Cilaki yang dinamai Jalan Milea dalam novel aslinya. Ada juga Jalan Natuna, Jalan Kancra, SMAN 20 Bandung, dan kawasan Asia-Afrika. Lo bakal ngerasa diajak jalan-jalan di Bandung tempo dulu.

Satu hal lagi. Kalau mengharapkan ending yang jelas, lo enggak akan terpuaskan. Di penghujung film, tampak tulisan “Sampai Jumpa di Dilan 1991”. Bisa aja, ngikutin novelnya, film ini bakal dibikin sebagai trilogi. Namun, apakah memang layak film ini dibikinin sekuel-sekuelnya?

Via Istimewa

Dilan 1990 bakal bisa lo saksikan di bioskop-bioskop Indonesia mulai 25 Januari mendatang. Kalau mau tahu jawaban dari pertanyaan di atas, lo enggak boleh ngelewatin film ini. Meski enggak baca novelnya, film ini tetap bakal bisa lo pahami. Apalagi, selain romansa kisah SMA, Dilan 1990 juga nampilin cerita mengenai keluarga sehingga semua kalangan bisa menikmatinya. Nah, coba aja lo nonton sendirian biar lo bisa praktikin rayuan-rayuan Dilan buat ngedeketin gebetan lo.

One Day (2016)

Bicara soal film Thailand memang nggak ada matinya ya. Di tengah serbuan film-film Hollywood yang mendominasi layar bioskop Indonesia, film Thailand tetap punya porsi di hati para pecintanya. Kedekatan latar belakang budaya yang tidak jauh berbeda, membuat film-film Thailand terasa lebih dekat di hati kita. Bahkan tak hanya filmnya, aktor dan aktrisnya pun punya penggemar fanatik yang tersebar di seluruh penjuru di Indonesia.

So nggak heran ya ketika film One Day mengumumkan jadwal rilisnya di Indonesia, antusias publik begitu terasa. Wajar saja film tersebut dibintangi oleh aktor Thailand yang sudah tidak asing lagi dikenal yaitu  Chantavit “Ter” Dhanasevi. Ter dikenal lewat film-film komedi romantis yang dibintanginya seperti Hello Stranger (2010) dan ATM (2012).  Sementara lawan mainnya ada Nittha “Mew” Jirayungyurn. Model cantik dan bintang serial TV Thailand yang baru kali pertama berakting di layar lebar.

dsc08677

Nah melihat jajaran aktor dan aktrisnya, kualitas entertaining film One Day tentu sangat menjanjikan. Apalagi film ini disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun, sutradara yang telah sukses membesut film-film Thai popular seperti Shutter (2004), Alone (2007), Hello Stranger (2010), Pee Mak (2013), dan masih banyak lagi. Ditambah lagi film ini merupakan produksi dari rumah produksi GDH, perpecahan dari GTH yang telah tutup di akhir tahun lalu.

Film One Day berkisah tentang seorang karyawan IT bernama Denchai (Ter) yang sangat cuek dengan penampilannya alias buruk rupa. Denchai jatuh cinta pada rekan kerjanya Nui (Mew). Sementara  Nui adalah karyawan baru di divisi marketing, tipikal wanita kantoran yang fashionable dan selalu menjaga penampilan. Sayangnya cinta Denchai bertepuk sebelah tangan. Seperti teman-teman kantornya, Nui hanya menganggap Denchai sebagai invisible man yang hanya dibutuhkan ketika komputer mereka mengalami masalah.

Tak cukup hanya bertepuk sebelah tangan, drama kisah cinta Denchai semakin rumit karena Nui jatuh cinta pada bosnya yang tampan. Dramanya lagi, sang bos telah memiliki istri dan seorang anak. Bahkan saking cintanya, Nui rela menjadi wanita simpanan dengan iming-iming sang bos bakal menceraikan istrinya. Wahhh..

Sampai ketika datanglah kesempatan Denchai. Saat kantornya menggelar kegiatan outing ke Hokkaido, Jepang, Nui mengalami kecelakaan yang membuatnya hilang ingatan dalam sehari. Denchai pun tak menyia-nyiakan kesempatan, meski dihiasi keraguan pada akhirnya Denchai mengaku sebagai kekasih Nui. Momen-momen indah akhirnya dirasakan Denchai selama menjadi kekasih wanita pujaannya dalam waktu sehari.

dsc01245

Film yang menghibur

Selayaknya film-film romantic comedy Thailand pada umumnya, film One Day dibuka dengan adegan-adegan yang mengundang gelak tawa. Tak bisa dipungkiri untuk urusan yang satu ini Thailand memang jagonya. Meski begitu seiring dengan berjalannya waktu adegan-adegan humor tersebut perlahan terkikis dan tergantikan dengan nuansa dramatik yang menghiasi cerita cinta segitiga para pemain utamanya.

Cerita cinta rumit yang disajikan Banjong dan Ter dalam kolaborasinya sebagai sutradara dan penulis naskah ini berjalan dengan lambat yang dibalut dalam durasi super panjang. Saking panjangnya alur ceritanya tak jarang menggelincirkan kita pada titik yang menjemukan.

Ending yang tak terduga (Spoiler Alert)

dsc00228

Salah satu hal yang membuat asyik saat menonton film-film Thailand adalah jalan ceritanya yang tidak terduga. Film-filmnya sekilas mengambil jalan cerita yang ringan namun ternyata tak sesimpel yang dibayangkan lho. Banyak hal tak terduga yang kerap diselipkan pada klimaks cerita. Seperti terbersit dalam film One Day yang mampu membuat penonton terharu saat melihat adegan flashback dimana Denchai yang ternyata tak hanya sekedar jatuh cinta pada Nui, namun ia juga menjadi seorang pengagum rahasia. Si pria berambut kriwil ini rela melakukan hal-hal kecil yang berharga untuk Nui seperti membersihkan meja kerja Nui, memasukkan playlist lagu kesukaan Nui di komputernya, meng-upgrade level game yang sering dimainkan Nui, dan masih banyak lagi. Ahh so sweet sekali ya…

Selain itu film One Day juga menawarkan ending cerita yang tak terduga. Jika banyak film-film romantic comedy yang main aman dengan menghadirkan ending cerita bahagia, film-film Thailand justru lebih berani dengan menghadirkan sad ending, bahkan tak sedikit pula yang menggantung. Yap, ending seperti inilah yang tersaji dalam film One Day. Jadi siap-siap saja ya dibuat kesal dengan ending ceritanya. Dan satu lagi please jangan baper.

Avengers : Infinity War (2017)

Penantian panjang melihat aksi superhero Avengers melawan Thanos di film Infinity War akan segera berakhir, karena hari ini film lengkap adaptasi komik Marvel ini resmi dirilis dan tayang di bioskop-bioskop Indonesia.

BookMyShow menjadi salah satu yang pertama menyaksikan pertarungan superhero ini. Berikut kami sajikan melalui review film Avengers: Infinity War. Tenang saja, review ini tidak akan menggoyahkan hati kamu untuk menyaksikan langsung film ini di bioskop. 

Tony Stark alias Iron Man ( Robert Downey Jr) memilih “jalan damai” untuk hidupnya. Pasca bubarnya The Avengers, dirinya hanya ingin hidup bahagia dengan Pepper Potts (Gwyneth Paltrow).

Namun, bayang-bayang kematian teman-teman Avengers yang ingin dilupakannya terus menghantui. Nyatanya, Tony Stark harus berkawan lagi  dengan Dr. Bruce Banner alias Hulk (Mark Ruffalo).B

Thor (Chris Hemsworth) hampir senasib dengan Tony Stark. Hanya saja, apa yang terjadi pada dirinya sungguh nyata. Thor harus kehilangan semua orang-orang yang dicintainya, lebih menyesakkan dari kisah Tony Stark. 

review-film-avengers-infinity-war-pilu-superhero-filosofi-thanos

Sumber: IMDB

Di sebuah tempat yang jauh, Steve Rogers (Chris Evans) punya cerita lain bersama pasukan barunya. Tak lagi mengusung nilai-nilai loyalitas, dan memasang standar kemanusiaan, Steve kini jadi sosok yang berbeda serta punya misinya sendiri.

Sampai pada satu titik, Steve harus menghadapi kenyataan, prinsip hidupnya yang baru menuntunnya pada satu  permasalahan yang harus segera diselesaikan.

Pilu para mantan anggota The Avengers ini berbanding terbalik dengan keyakinan The Mad Titan alias Thanos. Sosok yang selama ini berada di balik ribuan bintang-bintang semesta punya ternyata punya filosofi hidup yang sederhana dan bisa merusak.

Filosofi hidup yang dianggapnya sangat mulia. Sayangnya, filosofi hidupnya  berbenturan dengan sikap para mantan anggota Avengers. Terlepas dari kepentingan mereka masing-masing, mantan anggota The Avengers harus menyelesaikan permasalahan mereka dengan Thanos, melalui cara mereka sendiri.

Kekacauan terjadi. Siapa yang bisa menggagalkan misi mulia Thanos? Lalu siapakah yang sebenarnya punya nurani suci? Para superhero mantan anggota The Avengers atau Thanos?

Baca Juga: Perbandingan Pemeran Avengers 10 Tahun Lalu dan Sekarang 

Film Mahal dan Sempurna

review-film-avengers-infinity-war-pilu-superhero-filosofi-thanos

Sah-sah saja jika film The Avengers: Infinity War jadi film mewah yang paling ditunggu tahun ini. Selain sebagai film pertama yang menggunakan kamera IMAX, bujet produksi untuk film ini sendiri mencapai $300.

Hal yang wajar mengingat sutradara Anthony dan Joe Russo harus menyatukan lebih dari 20 karakter pahlawan ada di film ini. Kemewahan film ini terbayar ketika apa yang disajikan dalam film Avengers: Infinity War terasa nyaris sempurna.

Duo Russo bisa membuat cerita yang tidak rumit ditengah banyaknya karakter yang harus ditampilkan di film ini. Cara termudah untuk merebut simpati penonton dan membuat semua orang bisa mengerti alur cerita film dengan cepat. Bahkan bagi kamu yang tidak mengikuti perjalanan cerita film-film Marvel Cinematic Universe sebelumnya, dapat dengan mudah memahami cerita dari Infinity War. 

Film ini menggabungkan elemen yang baru tanpa harus kehilangan identitas Marvel. Mulai dari aksi yang disuguhkan para superhero dan tentu saja komedi khas yang selalu dilontarkan oleh beberapa karakter Marvel ini di film-film Marvel Cinematic Universe sebelumnya.

Kamu bisa tertawa melihat pola dan gestur dari jokes yang ditawarkan oleh setiap karakternya dan kemudian terbawa hanyut dengan aksi-aksi pertarungan yang disajikan.

Ada cerita tentang perpecahan, persahabatan, keluarga hingga mengangkat harkat wanita sebagai sosok superhero. Sekali lagi, tidak mudah mengumpulkan karakter lebih dari 20 superhero dan membuat sebuah konflik yang rapi.

Namun, dengan pintar duo Russo meramunya hingga menjadi hal-hal detil dari cerita yang akan ditawarkan. Bahkan, sesekali selipan-selipan cerita dari film Marvel Cinematic Universe disajikan melalui film ini.  

Meskipun nyaris sempurna, namun masih ada beberapa kekurangan di dalam film ini. Karakter Steve Rogers yang tidak peduli lagi dengan norma dan standar moral dalam dirinya setidaknya bisa lebih digali lebih dalam.B

Sosok Thanos pun sebenarnya bisa ditampilkan lebih beringas lagi. Namun, mungkin duo Russo punya jalan lain untuk menampilkan “kegilaan” Thanos. Satu lagi, animasi CGI untuk karakter Thanos seperti masih belum terlihat sempurna meskipun tidak terlalu kaku.

Sisanya, pertempuran para pahlawan Marvel melawan Thanos adalah salah satu film aksi superhero terbaik yang layak ditonton hingga saat ini. Ah, tidak lupa duo Russo selalu pintar menempatkan adegan penutup yang sempurna untuk disajikan di film berikutnya.

RUROUNI KENSHIN TRILOGY (2012-2014)

RUROUNI KENSHIN (2012)


Plot:1968, pasca perang Bakumatsu, mantan pembunuh battosai, Kenshin Himura berjanji untuk membela mereka yang membutuhkan tanpa membunuh. Mengembara ke Jepang dengan pedang bermata terbalik, kenshin meninggalkan masa lalunya sebagai samurai tak bertuan. Kini Kenshin tinggal bersama teman barunya, Kaoru Kamiya di sekolah. Ketika Kanryuu Takeda, kepala gangster obat opium meracuni penduduk, Sementara ditempat lain kegaduhan terjadi ketika Seorang Battosai membunuh polisi, Kenshin bersama teman barunya, Sanosuke bergabung bersama menyelematkan kota dan menghentikan teror Battosai.
Short Review: berangkat dari penonton yang tidak mengetahui dunia manga, tanpa prasangka atau pengetahuan dari karakternya, Rurouni Kenshin mengenalkan seorang pembunuh berhati mulia. Karakter utamanya berhasil dibuat dengan sangat kuat. Terpujilah bagi dia yang menciptakan karakter kenshin. Tidak ada yang istimewa dari ceritanya, yang menarik hanya karakter Kenshin dan bagaimana scriptwriter menyampaikan latar belakang kenshin (terutama masa lalu kenshin) dengan mensintesis pahit dan manis hidupnya kedalam satu kisah pembuka dari sebuah trilogy. Alurnya sedikit lambat, banyak adegan yang sebenarnya bisa disingkat, namun hal itu bukanlah masalah melihat sang Director ahli dalam hal menciptakan sinematografi yang menarik dengan koreografi dari aksi-aksi perkelahian yang luar biasa hebat.iRated: 7/10

RUROUNI KENSHI: KYOTO INFERNO (2014)

Plot:Seorang battosai kejam ambisius dan berbahaya yang pernah dikontrak oleh pemerintah, Shishio Makoto menuntut keadilan atas penghianatan yang dia terima dari pemerintah. Pembunuhan besar-besaran terhadap polisi-pun terjadi. Kini pemerintah hanya bisa meminta bantuan kepada kenshin himura untuk menghentikan rencana jahat Shishio dan anak buahnya yang berencana menghancurkan era baru di Jepang yang telah mengambil alih Jaman Samurai.
Short Review: Kyoto Inferno melanjutkan perjalanan kenshin sebagai mantan battosai yang telah berjanji tidak akan membunuh lagi dengan konflik baru yang setingkat lebih besar dari apa yang terjadi dalam film pertamanya. Musuh lainnya kembali dilahirkan sebagai musuh paling kuat dan lawan berat Kenshin yaitu Shishio Makoto. Jika dalam film pertamanya dapat ditarik satu konklusi dan titik akhir kisah yang jelas, di film kedua nya kali ini sedikit berbeda. Kyoto Inferno tidak bisa berdiri sendiri. Ending-nya akti-konklusi, membuat siapapun yang menonton babak kedua ini, mau tidak mau harus mengikuti babak ketiganya. Ini adalah jembatan antara film pertama dengan film ketiganya. Tidak ada pertarungan besar antara Kenshin dan Makoto. Penonton harus bersabar jika ingin melihat Shishio beraksi melawan Keshin karena durasi sepenuhnya digunakan untuk mengatur pertempuran besar dalam film ketiganya nanti. Mengenai sinematografi dan koreografi adegan perkelahiannya, Kyoto Inferno masih sebaik film pertamanya, Keren!!iRated: 7/10

RUROUNI KENSHIN: THE LEGEND ENDS (2014)

Plot:Shishio berhasil mengendalikan pemerintahan. Dalam sekejap Kenshin Himura dinyatakan sebagai Buronan oleh pemerintah. Disaat Kenshin kembali berlatih dengan guru lamanya dalam persembunyiannya sebagai buronan, Shishio yang telah mengumpulkan pasukan dan sebuah kapal perang besar dengan meriam, siap menggulingkan Pemerintahan Meiji.

Short Review: Melanjutkan adegan akhir yang terjadi dalam film keduanya, The Legend End memulai petualangan akhir kenshin ini dengan menghadirkan karakter baru yaitu Guru lama kenshin, Hiko Seijuro. Satu jam awal film berfokus kepada pelatihan kenshin dengan Seijiro. Dialognya menarik, menyinggung tentang rasa takut akan kematian dan kemauan untuk hidup. Seni koreografi tongkat versus pedang antara Seijuro dan Kenshin dibuat dengan gaya yang cukup menguras emosi. 20 menit akhir film sudah tidak banyak lagi dialog, sepenuhnya ini adalah bagian dari serangkaian aksi laga yang paling inklusif dan sangat inovatif. Pertarungan besar dimana semua karakter bersatu melawan kejahatan dan tentunya duel maut Kenshin melawan Shishio Makoto yang sudah dinantikan sejak Kyoto Inferno. Yang paling mengejutkan lagi adalah pertarungan empat lawan satu di dalam kapal perang milik Shishio. Sebuah pertarungan dimana setiap tokohnya membawa gaya dan karakter diri mereka masing-masing. membuat Final dari saga ini berhasil ditampilkan secara brutal, menegangkan, lucu dan sangat menggembirakan. The Legend of End telah melakukan upaya yang sangat baik dalam menciptakan sebuah konklusi akhir yang sangat memuaskan.iRated: 7/10