Avengers : Infinity War (2017)

Penantian panjang melihat aksi superhero Avengers melawan Thanos di film Infinity War akan segera berakhir, karena hari ini film lengkap adaptasi komik Marvel ini resmi dirilis dan tayang di bioskop-bioskop Indonesia.

BookMyShow menjadi salah satu yang pertama menyaksikan pertarungan superhero ini. Berikut kami sajikan melalui review film Avengers: Infinity War. Tenang saja, review ini tidak akan menggoyahkan hati kamu untuk menyaksikan langsung film ini di bioskop. 

Tony Stark alias Iron Man ( Robert Downey Jr) memilih “jalan damai” untuk hidupnya. Pasca bubarnya The Avengers, dirinya hanya ingin hidup bahagia dengan Pepper Potts (Gwyneth Paltrow).

Namun, bayang-bayang kematian teman-teman Avengers yang ingin dilupakannya terus menghantui. Nyatanya, Tony Stark harus berkawan lagi  dengan Dr. Bruce Banner alias Hulk (Mark Ruffalo).B

Thor (Chris Hemsworth) hampir senasib dengan Tony Stark. Hanya saja, apa yang terjadi pada dirinya sungguh nyata. Thor harus kehilangan semua orang-orang yang dicintainya, lebih menyesakkan dari kisah Tony Stark. 

review-film-avengers-infinity-war-pilu-superhero-filosofi-thanos

Sumber: IMDB

Di sebuah tempat yang jauh, Steve Rogers (Chris Evans) punya cerita lain bersama pasukan barunya. Tak lagi mengusung nilai-nilai loyalitas, dan memasang standar kemanusiaan, Steve kini jadi sosok yang berbeda serta punya misinya sendiri.

Sampai pada satu titik, Steve harus menghadapi kenyataan, prinsip hidupnya yang baru menuntunnya pada satu  permasalahan yang harus segera diselesaikan.

Pilu para mantan anggota The Avengers ini berbanding terbalik dengan keyakinan The Mad Titan alias Thanos. Sosok yang selama ini berada di balik ribuan bintang-bintang semesta punya ternyata punya filosofi hidup yang sederhana dan bisa merusak.

Filosofi hidup yang dianggapnya sangat mulia. Sayangnya, filosofi hidupnya  berbenturan dengan sikap para mantan anggota Avengers. Terlepas dari kepentingan mereka masing-masing, mantan anggota The Avengers harus menyelesaikan permasalahan mereka dengan Thanos, melalui cara mereka sendiri.

Kekacauan terjadi. Siapa yang bisa menggagalkan misi mulia Thanos? Lalu siapakah yang sebenarnya punya nurani suci? Para superhero mantan anggota The Avengers atau Thanos?

Baca Juga: Perbandingan Pemeran Avengers 10 Tahun Lalu dan Sekarang 

Film Mahal dan Sempurna

review-film-avengers-infinity-war-pilu-superhero-filosofi-thanos

Sah-sah saja jika film The Avengers: Infinity War jadi film mewah yang paling ditunggu tahun ini. Selain sebagai film pertama yang menggunakan kamera IMAX, bujet produksi untuk film ini sendiri mencapai $300.

Hal yang wajar mengingat sutradara Anthony dan Joe Russo harus menyatukan lebih dari 20 karakter pahlawan ada di film ini. Kemewahan film ini terbayar ketika apa yang disajikan dalam film Avengers: Infinity War terasa nyaris sempurna.

Duo Russo bisa membuat cerita yang tidak rumit ditengah banyaknya karakter yang harus ditampilkan di film ini. Cara termudah untuk merebut simpati penonton dan membuat semua orang bisa mengerti alur cerita film dengan cepat. Bahkan bagi kamu yang tidak mengikuti perjalanan cerita film-film Marvel Cinematic Universe sebelumnya, dapat dengan mudah memahami cerita dari Infinity War. 

Film ini menggabungkan elemen yang baru tanpa harus kehilangan identitas Marvel. Mulai dari aksi yang disuguhkan para superhero dan tentu saja komedi khas yang selalu dilontarkan oleh beberapa karakter Marvel ini di film-film Marvel Cinematic Universe sebelumnya.

Kamu bisa tertawa melihat pola dan gestur dari jokes yang ditawarkan oleh setiap karakternya dan kemudian terbawa hanyut dengan aksi-aksi pertarungan yang disajikan.

Ada cerita tentang perpecahan, persahabatan, keluarga hingga mengangkat harkat wanita sebagai sosok superhero. Sekali lagi, tidak mudah mengumpulkan karakter lebih dari 20 superhero dan membuat sebuah konflik yang rapi.

Namun, dengan pintar duo Russo meramunya hingga menjadi hal-hal detil dari cerita yang akan ditawarkan. Bahkan, sesekali selipan-selipan cerita dari film Marvel Cinematic Universe disajikan melalui film ini.  

Meskipun nyaris sempurna, namun masih ada beberapa kekurangan di dalam film ini. Karakter Steve Rogers yang tidak peduli lagi dengan norma dan standar moral dalam dirinya setidaknya bisa lebih digali lebih dalam.B

Sosok Thanos pun sebenarnya bisa ditampilkan lebih beringas lagi. Namun, mungkin duo Russo punya jalan lain untuk menampilkan “kegilaan” Thanos. Satu lagi, animasi CGI untuk karakter Thanos seperti masih belum terlihat sempurna meskipun tidak terlalu kaku.

Sisanya, pertempuran para pahlawan Marvel melawan Thanos adalah salah satu film aksi superhero terbaik yang layak ditonton hingga saat ini. Ah, tidak lupa duo Russo selalu pintar menempatkan adegan penutup yang sempurna untuk disajikan di film berikutnya.

RUROUNI KENSHIN TRILOGY (2012-2014)

RUROUNI KENSHIN (2012)


Plot:1968, pasca perang Bakumatsu, mantan pembunuh battosai, Kenshin Himura berjanji untuk membela mereka yang membutuhkan tanpa membunuh. Mengembara ke Jepang dengan pedang bermata terbalik, kenshin meninggalkan masa lalunya sebagai samurai tak bertuan. Kini Kenshin tinggal bersama teman barunya, Kaoru Kamiya di sekolah. Ketika Kanryuu Takeda, kepala gangster obat opium meracuni penduduk, Sementara ditempat lain kegaduhan terjadi ketika Seorang Battosai membunuh polisi, Kenshin bersama teman barunya, Sanosuke bergabung bersama menyelematkan kota dan menghentikan teror Battosai.
Short Review: berangkat dari penonton yang tidak mengetahui dunia manga, tanpa prasangka atau pengetahuan dari karakternya, Rurouni Kenshin mengenalkan seorang pembunuh berhati mulia. Karakter utamanya berhasil dibuat dengan sangat kuat. Terpujilah bagi dia yang menciptakan karakter kenshin. Tidak ada yang istimewa dari ceritanya, yang menarik hanya karakter Kenshin dan bagaimana scriptwriter menyampaikan latar belakang kenshin (terutama masa lalu kenshin) dengan mensintesis pahit dan manis hidupnya kedalam satu kisah pembuka dari sebuah trilogy. Alurnya sedikit lambat, banyak adegan yang sebenarnya bisa disingkat, namun hal itu bukanlah masalah melihat sang Director ahli dalam hal menciptakan sinematografi yang menarik dengan koreografi dari aksi-aksi perkelahian yang luar biasa hebat.iRated: 7/10

RUROUNI KENSHI: KYOTO INFERNO (2014)

Plot:Seorang battosai kejam ambisius dan berbahaya yang pernah dikontrak oleh pemerintah, Shishio Makoto menuntut keadilan atas penghianatan yang dia terima dari pemerintah. Pembunuhan besar-besaran terhadap polisi-pun terjadi. Kini pemerintah hanya bisa meminta bantuan kepada kenshin himura untuk menghentikan rencana jahat Shishio dan anak buahnya yang berencana menghancurkan era baru di Jepang yang telah mengambil alih Jaman Samurai.
Short Review: Kyoto Inferno melanjutkan perjalanan kenshin sebagai mantan battosai yang telah berjanji tidak akan membunuh lagi dengan konflik baru yang setingkat lebih besar dari apa yang terjadi dalam film pertamanya. Musuh lainnya kembali dilahirkan sebagai musuh paling kuat dan lawan berat Kenshin yaitu Shishio Makoto. Jika dalam film pertamanya dapat ditarik satu konklusi dan titik akhir kisah yang jelas, di film kedua nya kali ini sedikit berbeda. Kyoto Inferno tidak bisa berdiri sendiri. Ending-nya akti-konklusi, membuat siapapun yang menonton babak kedua ini, mau tidak mau harus mengikuti babak ketiganya. Ini adalah jembatan antara film pertama dengan film ketiganya. Tidak ada pertarungan besar antara Kenshin dan Makoto. Penonton harus bersabar jika ingin melihat Shishio beraksi melawan Keshin karena durasi sepenuhnya digunakan untuk mengatur pertempuran besar dalam film ketiganya nanti. Mengenai sinematografi dan koreografi adegan perkelahiannya, Kyoto Inferno masih sebaik film pertamanya, Keren!!iRated: 7/10

RUROUNI KENSHIN: THE LEGEND ENDS (2014)

Plot:Shishio berhasil mengendalikan pemerintahan. Dalam sekejap Kenshin Himura dinyatakan sebagai Buronan oleh pemerintah. Disaat Kenshin kembali berlatih dengan guru lamanya dalam persembunyiannya sebagai buronan, Shishio yang telah mengumpulkan pasukan dan sebuah kapal perang besar dengan meriam, siap menggulingkan Pemerintahan Meiji.

Short Review: Melanjutkan adegan akhir yang terjadi dalam film keduanya, The Legend End memulai petualangan akhir kenshin ini dengan menghadirkan karakter baru yaitu Guru lama kenshin, Hiko Seijuro. Satu jam awal film berfokus kepada pelatihan kenshin dengan Seijiro. Dialognya menarik, menyinggung tentang rasa takut akan kematian dan kemauan untuk hidup. Seni koreografi tongkat versus pedang antara Seijuro dan Kenshin dibuat dengan gaya yang cukup menguras emosi. 20 menit akhir film sudah tidak banyak lagi dialog, sepenuhnya ini adalah bagian dari serangkaian aksi laga yang paling inklusif dan sangat inovatif. Pertarungan besar dimana semua karakter bersatu melawan kejahatan dan tentunya duel maut Kenshin melawan Shishio Makoto yang sudah dinantikan sejak Kyoto Inferno. Yang paling mengejutkan lagi adalah pertarungan empat lawan satu di dalam kapal perang milik Shishio. Sebuah pertarungan dimana setiap tokohnya membawa gaya dan karakter diri mereka masing-masing. membuat Final dari saga ini berhasil ditampilkan secara brutal, menegangkan, lucu dan sangat menggembirakan. The Legend of End telah melakukan upaya yang sangat baik dalam menciptakan sebuah konklusi akhir yang sangat memuaskan.iRated: 7/10