First Love (a Thing Called Love) (2010)

Film yang berjudul Crazy Little Thing Called Love ini berasal dari Thailand. Dirilis tahun 2008. Film ini bercerita tentang cinta pertama seorang pelajar SMP bernama Khun Nam (Pimchanok Luevisadpaibul) terhadap kakak kelasnya yang bernama Khun Shone (Mario Maurer).
Nam, dibantu dengan teman-temannya yang super, mencoba berbagai cara untuk mendekati si cowok ini. Yaitu dengan mencoba hal-hal yang ada di dalam buku yang berisi tentang 9 metode cinta dari berbagai Negara. 
Selain itu, Nam berusaha keras untuk merubah dirinya yang awalnya hitam dan jelek, menjadi cantik, putih, anggun, dan pintar. Tentu saja usaha Nam itu tak luput dari bantuan ketiga temannya.
Tetapi walaupun sudah berubah menjadi lebih cantik, dan lebih feminim, usaha Nam dan teman-temannya tidak pernah membuahkan hasil. Si cowok enggak pernah meminta Nam jadi pacarnya, alih-alih malah sahabat si cowok yang meminta Nam jadi pacarnya.
Pada akhirnya, suatu hari, Nam memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya ke si cowok. Tapi apa yang terjadi? Si cowok rupanya sudah berpacaran dengan Pin, teman si cowok itu sendiri.

***
Film ini memang rilis tahun 2008 dan tergolong film lama. Tapi film ini menakjubkan! Awalnya temen-temen saya pada nonton ramai-ramai dikelas, cuma saya gak tertarik, jadi saya gak ikutan nonton. Kenapa saya gak tertarik? Karena itu film Thailan, entahlah, film Thailand-kan (maaf) biasanya aneh-aneh. Maksudnya, kawan2 saya selalu nonton film Thailand yang aneh-aneh.
Tapi kemudian pas di SMA ini, saya kelewat bosan dan minta film-film bajakan sama temen saya yang punya koleksi lengkap film maupun anime dan tidak segan-segan untuk memberikannya kepada siapapun yang meminta.
Inilah awalnya saya ketemu film ini untuk kedua kalinya. Saya akhirnya nyerah sama sikap anti Thailand dan mencoba nonton film satu ini, lagian judulnya cukup bagus, pikir saya waktu itu.
Kesan pertama saya saat menonton film ini adalah merasa, er… ilfeel? Yah, mungkin kalo kasarnya lebih tepat ke jijik, mual-mual ga jelas. Mau tau kenapa? Liat deh foto-foto berikut.

Gaya mereka itu loh, konyol dan segalanya. Saya benar-benar gak berselera nonton jenis yang beginian. Tapi abang saya bilang filmnya bagus, nanti ada bagian sedihnya dll dll.. Jadi saya bertahan.
Dan ternyata memang bagus bangeeeet. Film ini mengingatkan saya pada saat saya mengalami cinta pertama dulu~ *sedikit curcol ini :p* , Seperti si Nam yang keluar kelas, izinnya ke toilet padahal sebenernya mau ngeliat si cowok dengan cara melewati kelasnya, saya juga pernah melakukannya, sama banget deh, izin ke toilet, lalu bukannya lewat lorong kiri malah ke lorong kanan, rela muter-muter demi ngeliat gebetan huahaha. Atau saat saya ngebalikin absen ke meja piket, keliatan kayak sekretaris paling rajin padahal modus banget supaya biar bisa liat cinta pertama saya dari balik kaca. Juga seperti Nam yang ngeliat dari jarak jauh, pura-pura diam di tempat tertentu saat si cowok lewat, saya juga pernah melakukan semuaanya hahahaha. Pengalaman bodoh memang, tapi menyenangkan banget. Saya baru lulus SD dan udah melakukan hal gila kayak gitu, rasanya… wahahaha. Tapi untunglah sekarang saya bisa menjaga pikiran saya supaya tetep di jalan normal dan berpikir waras. πŸ˜›
Curcolnya udahan, lanjut lagi,.. setelah akhirnya mengalami banyak perawatan, si cewek menjadi sempurna dan terkenal, mau liat perubahannya?

Kelebihan film ini adalah, akting para tokoh berjalan sangat natural seakan-akan mereka bukannya main film. Mereka benar-benar seperti anak-anak yang berbuat seenaknya, si aktor cewek seakan benar-benar jatuh cinta sama si cowok. Juga temen-temen si Nam, yang wah.,. Pokoknya akting mereka semua sempurna, detail-detail sikap yang kecil itu diperhatiin. Saya suka.
Dan lalu, feel-nya dapet banget. Saya bisa tertawa benar-benar tertawa, ataupun ikutan jengkel, ikutan marah, dan bahkan sedih. Mata saya sempat berkaca-kaca saat menonton beberapa adegan dari film ini, yang membuat saya bener-bener mereka ikut tertusuk adalah saat bagian si Nam menyatakan cinta ke cowoknya, dan ternyata cowok itu udah punya pacar.

Secara keseluruhan film ini bagus, hanya endingnya saja yang menurut saya sedikit datar dan membosankan, membuat saya kecewa.

Sekilas review saya.. Ga jelas ya? Maklum saya masih belajar πŸ˜› Intinya adalah, buat kalian yang lagi nyari-nyari film bertema cinta remaja(?), ataupun yang lagi jatuh cinta, lagi patah hati, pengen ketawa, pengen nangis, silahkan menonton film ini. πŸ™‚

Dilan 1990 (2017)

Dilan, karakter utama dari novel Pidi Baiq yang berjudul Dilan 1990 (2014), Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 (2015), dan Milea: Suara dari Dilan (2016), tengah digandrungi kaum hawa karena rayuan khasnya yang bisa bikin senyum-senyum sendiri. Dia digambarin sebagai bad boy yang romantis. Sosok cowok idaman ini pun akhirnya terwujud bukan cuma dalam angan-angan pembaca novel. Soalnya, kisah novel Dilan diadaptasi ke sebuah film yang digarap oleh Fajar Bustomi.

Awalnya, pemilihan Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran Dilan cukup banyak menimbulkan kontroversi. Enggak sedikit netizen ngerasa bahwa sosok Iqbaal terlalu β€œbaik” buat meranin bad boy kayak Dilan. Ditambah, banyak keraguan dari para pembaca novel Dilan 1990 mengenai film adaptasi ini. Bahkan, dari cuplikan filmnya aja, dialog rayuan yang disampaikan Iqbaal di film dinilai sangat datar dan mengecewakan.

Yap, memang enggak adil kalau menilai sebuah film cuma dari cuplikannya. Padahal, sebagai film adaptasi, Dilan 1990 bisa dibilang cukup berbeda. Biasanya, film adaptasi enggak nampilin keseluruhan kisah dalam novel. Namun, seakan-akan enggak mau mengecewakan penggemar novelnya, film ini nyajiin visualisasi dari seluruh adegan krusial dalam novel meski durasi tetap jadi hal yang diperhitungkan.

Sinopsis: Dilan (Iqbaal Ramadhan) begitu gencar mendekati Milea (Vanesha Priscillia), teman sekolahnya. Milea sendiri udah punya pacar, Beni (Brandon Salim), meski berbeda kota. Namun, ini enggak bikin Dilan gentar. Dia pun mengeluarkan senjata andalannya: rayuan-rayuan manis yang berbisa.

Via Istimewa

Kalau lo udah baca novelnya, mungkin punya bayangan sendiri bagaimana sosok Dilan dari penggambaran Pidi Baiq. Sang penulis novel sendiri pernah mengatakan bahwa sosok asli Dilan akan tetap dijaga baik-baik. Film ini pun membuktikannya.

Iqbaal yang awalnya sempat diragukan berhasil mematahkan keraguan tersebut. Soalnya, Iqbaal mampu menghidupkan karakter Dilan yang dikenal sebagai berandalan romantis. Mulai dari ekspresi nakal, tatapan tajam, hingga jiwa romantis Dilan, semua aspek utama dari seorang Dilan bisa dihayati oleh Iqbaal.

Via Istimewa

Iqbaal juga bisa membangun chemistry yang pas dengan Vanesha. Bahkan, para pemeran lainnya juga terlihat memiliki chemistry yang baik antara satu dengan yang lainnya. Namun, bukan berarti semua ini enggak ada kekurangan. Nyatanya, meski semua terlihat baik-baik aja, lo bakal terganggu sama rayuan-rayuan Dilan yang rasanya kurang pas. Bukannya bikin hati meleleh, beberapa rayuan ini justru terlihat receh.

Memang, sih, sebuah film yang diangkat dari novel enggak bakal maksimal mewakili novel tersebut. Kepala sang sutradara tentunya enggak cukup mampu menampung imajinasi para pembaca dengan penafsiran masing-masing. Meski film ini berusaha maksimal nampilin seluruh adegan penting dalam novel, unsur-unsur yang sifatnya enggak konkret malah enggak tergarap dengan baik. Misalnya rayuan-rayuan nanggung tadi.

Via Istimewa

Yap, film ini bakal lebih manjain mata ketimbang batin lo. Apalagi, kisah romansa antara Dilan dan Milea ini berlatar sama dengan yang ditulis dalam novel, yaitu Kota Bandung era 1990-an. Lokasi-lokasi yang digunakan dalam film ini di antaranya adalah kawasan Cibeunying dan Cilaki yang dinamai Jalan Milea dalam novel aslinya. Ada juga Jalan Natuna, Jalan Kancra, SMAN 20 Bandung, dan kawasan Asia-Afrika. Lo bakal ngerasa diajak jalan-jalan di Bandung tempo dulu.

Satu hal lagi. Kalau mengharapkan ending yang jelas, lo enggak akan terpuaskan. Di penghujung film, tampak tulisan β€œSampai Jumpa di Dilan 1991”. Bisa aja, ngikutin novelnya, film ini bakal dibikin sebagai trilogi. Namun, apakah memang layak film ini dibikinin sekuel-sekuelnya?

Via Istimewa

Dilan 1990 bakal bisa lo saksikan di bioskop-bioskop Indonesia mulai 25 Januari mendatang. Kalau mau tahu jawaban dari pertanyaan di atas, lo enggak boleh ngelewatin film ini. Meski enggak baca novelnya, film ini tetap bakal bisa lo pahami. Apalagi, selain romansa kisah SMA, Dilan 1990 juga nampilin cerita mengenai keluarga sehingga semua kalangan bisa menikmatinya. Nah, coba aja lo nonton sendirian biar lo bisa praktikin rayuan-rayuan Dilan buat ngedeketin gebetan lo.

One Day (2016)

Bicara soal film Thailand memang nggak ada matinya ya. Di tengah serbuan film-film Hollywood yang mendominasi layar bioskop Indonesia, film Thailand tetap punya porsi di hati para pecintanya. Kedekatan latar belakang budaya yang tidak jauh berbeda, membuat film-film Thailand terasa lebih dekat di hati kita. Bahkan tak hanya filmnya, aktor dan aktrisnya pun punya penggemar fanatik yang tersebar di seluruh penjuru di Indonesia.

So nggak heran ya ketika film One Day mengumumkan jadwal rilisnya di Indonesia, antusias publik begitu terasa. Wajar saja film tersebut dibintangi oleh aktor Thailand yang sudah tidak asing lagi dikenal yaitu  Chantavit β€œTer” Dhanasevi. Ter dikenal lewat film-film komedi romantis yang dibintanginya seperti Hello Stranger (2010) dan ATM (2012).  Sementara lawan mainnya ada Nittha β€œMew” Jirayungyurn. Model cantik dan bintang serial TV Thailand yang baru kali pertama berakting di layar lebar.

dsc08677

Nah melihat jajaran aktor dan aktrisnya, kualitas entertaining film One Day tentu sangat menjanjikan. Apalagi film ini disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun, sutradara yang telah sukses membesut film-film Thai popular seperti Shutter (2004), Alone (2007), Hello Stranger (2010), Pee Mak (2013), dan masih banyak lagi. Ditambah lagi film ini merupakan produksi dari rumah produksi GDH, perpecahan dari GTH yang telah tutup di akhir tahun lalu.

Film One Day berkisah tentang seorang karyawan IT bernama Denchai (Ter) yang sangat cuek dengan penampilannya alias buruk rupa. Denchai jatuh cinta pada rekan kerjanya Nui (Mew). Sementara  Nui adalah karyawan baru di divisi marketing, tipikal wanita kantoran yang fashionable dan selalu menjaga penampilan. Sayangnya cinta Denchai bertepuk sebelah tangan. Seperti teman-teman kantornya, Nui hanya menganggap Denchai sebagai invisible man yang hanya dibutuhkan ketika komputer mereka mengalami masalah.

Tak cukup hanya bertepuk sebelah tangan, drama kisah cinta Denchai semakin rumit karena Nui jatuh cinta pada bosnya yang tampan. Dramanya lagi, sang bos telah memiliki istri dan seorang anak. Bahkan saking cintanya, Nui rela menjadi wanita simpanan dengan iming-iming sang bos bakal menceraikan istrinya. Wahhh..

Sampai ketika datanglah kesempatan Denchai. Saat kantornya menggelar kegiatan outing ke Hokkaido, Jepang, Nui mengalami kecelakaan yang membuatnya hilang ingatan dalam sehari. Denchai pun tak menyia-nyiakan kesempatan, meski dihiasi keraguan pada akhirnya Denchai mengaku sebagai kekasih Nui. Momen-momen indah akhirnya dirasakan Denchai selama menjadi kekasih wanita pujaannya dalam waktu sehari.

dsc01245

Film yang menghibur

Selayaknya film-film romantic comedy Thailand pada umumnya, film One Day dibuka dengan adegan-adegan yang mengundang gelak tawa. Tak bisa dipungkiri untuk urusan yang satu ini Thailand memang jagonya. Meski begitu seiring dengan berjalannya waktu adegan-adegan humor tersebut perlahan terkikis dan tergantikan dengan nuansa dramatik yang menghiasi cerita cinta segitiga para pemain utamanya.

Cerita cinta rumit yang disajikan Banjong dan Ter dalam kolaborasinya sebagai sutradara dan penulis naskah ini berjalan dengan lambat yang dibalut dalam durasi super panjang. Saking panjangnya alur ceritanya tak jarang menggelincirkan kita pada titik yang menjemukan.

Ending yang tak terduga (Spoiler Alert)

dsc00228

Salah satu hal yang membuat asyik saat menonton film-film Thailand adalah jalan ceritanya yang tidak terduga. Film-filmnya sekilas mengambil jalan cerita yang ringan namun ternyata tak sesimpel yang dibayangkan lho. Banyak hal tak terduga yang kerap diselipkan pada klimaks cerita. Seperti terbersit dalam film One Day yang mampu membuat penonton terharu saat melihat adegan flashback dimana Denchai yang ternyata tak hanya sekedar jatuh cinta pada Nui, namun ia juga menjadi seorang pengagum rahasia. Si pria berambut kriwil ini rela melakukan hal-hal kecil yang berharga untuk Nui seperti membersihkan meja kerja Nui, memasukkan playlist lagu kesukaan Nui di komputernya, meng-upgrade level game yang sering dimainkan Nui, dan masih banyak lagi. Ahh so sweet sekali ya…

Selain itu film One Day juga menawarkan ending cerita yang tak terduga. Jika banyak film-film romantic comedy yang main aman dengan menghadirkan ending cerita bahagia, film-film Thailand justru lebih berani dengan menghadirkan sad ending, bahkan tak sedikit pula yang menggantung. Yap, ending seperti inilah yang tersaji dalam film One Day. Jadi siap-siap saja ya dibuat kesal dengan ending ceritanya. Dan satu lagi please jangan baper.